Berita


MAJALENGKA. Bandara International Jawa Barat (BIJB) menargetkan operasional Bandara Kertajati di Majalengka soft launcing pada Februari 2018. Hingga minggu pertama Februari 2017, pengerjaan pembangunan bandara ini sudah mencapai 30,09%.

Virda Dimas Ekaputra, Direktur BIJB mengatakan, pembangunan bandara seluas 1.800 hektare (ha) akan dilakukan okeh BIJB untuk sisi darat. Sementara sisi udara akan dikerjakan oleh Kementerian Perhubungan dengan menggunakan APBN.

"Pada November 2016n kami sudah mendapat keputusan sisi udara akan diambil oleh pemerintah," katanya di Majalengka, Senin (13/2).

Adapun pembangunan sisi darat yang dilakukan BIJB dibagi atas tiga paket. Paket I yang meliputi pekerjaan infrastruktur yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya senilai Rp355 miliar telah mencapai 64,2%. Paket kedua yang meliputi pembangunan terminal utama penumpang senilai Rp 1,39 triliun yang digarap oleh PT Wijaya Karya Tbk dan PTPP sudah mencapai 19,9%.

Sedangkan paket III yang melingkupi pembangunan gedung operasional senilai Rp 416 miliar yang digarap oleh PT Waskita Karya Tbk telah mencapai 35.04%.

BIJB menargetkan konstruksi paket I sudah harus rampung pada Juli 2017, paket II pada November mendatang dan paket III rampung di bulan Agustus.

Adapun luas terminal penumpang yang akan dibangun mencapai 121.100 meter persegi (m2). Namun tahap awal pengoperasiannya, BIJB akan membangun terminal penumpang IA seluas 96.000 m2 terlebih dahulu yang bisa menampung 5 juta-11 juta penumpang per tahun.

"Terminal IB akan dilakukan pada tahun 2023 kalau kapasitas penumpang sudah jenuh, "ungkap Virda

Adapun paket ketiga mencakup pembangunan terminal kargo yang akan dibangun seluas 90.000 m2. Namun ke depan, BIJB akan mengusulkan untuk diperluas menjadi 200.000 m2.

Sementara untuk sisi udara, Kementerian Perhubungan akan membangun runway atau landasan pacu sepanjang 2.500 meter dengan lebar 60 meter. Namun pada tahun 2018, landasan pacu ini akan diperpanjang menjadi 3.000 meter.

Selain itu, Kenhub juga telah membangun parkir pesawat atau apron dan jalan penghubung antara runway dengan apron (taxiway) dan saat ini progres pembangunannya telah mencapai 80%.

Untuk sisi udara, Kemenhub telah menggelontorkan Rp 500 miliar hingga akhir 2016. Sedangkan tahun ini, akan disiapkan Rp 250 miliar untuk menyempurnakan proyek ini.

Sementara investasi untuk pengembangan sisi darat membutuhkan dana Rp 2,1 triliun. Sekitar 70% akan berasal dari ekuitas dan 30% pinjaman.

Dari ekuitas tadi, 51% akan dibiayai oleh pemerintah provinsi Jawa Barat dan 49% berasal dari penerbitan RDPT infrastruktur dirgantara I. " Untuk RDPT kita akan kerjasama dengan Danareksa dan kami yakin April itu sudah bisa cair, " jelas Virda.

Hingga akhir 2016, Pemprov Jawa Barat telah melakukan setoran modal Rp 537,5 miliar. Tahun ini rencananya akan dilakukan tambahan modal Rp 238 milir lagi. Virda bilang, kekurangan setoran modal akan dilakukan lewat lahan.

Hingga saat ini luas lahan yanb sudah berhasil dibebaskan untuk kebutuhan bandara ini mencapai 1.000 ha dan status seluruh lahan tersebut masih aset Pemprov Jabar. Sedangkan 800 ha sisanya akan dikebut pembebasannya.

"Kami usulkan ke Gubernur agar prioritas pembebasan lahan. harapan kami 2018 saat beroperasi semua laham udah beres. " kata Virda.

Terdapat 10 desa yang terkena dampak dari pembangunan Bandara Kertajatiini. Namun sejauh ini menurut Virda pembebasan lahan tidak mengalami kendala.

"Saat ini dari sisi kebutuhab lahan tahap I sudah terpenuhi. Memang ada beberapa titik yang mau dipindahkan karena masih terkendala. kita usulkan ke kemenhub agar tiga titik tersebut dipindahkan ke lahan yang sudah tersedia saja, " terangnya.

Untuk akses bandara ini, nantinya akan dilengkapi dengan jalan tol dan non tol. Namun tahap awal masih akan diakses lewat non tol. "Bupati mau akses non tol dulu baru tol. Akses tol baru akan dibuka setelah jumlah penumpang sudah besar. Tapi jalan non tol akan diperlebar jadi empat ruas nantinya, " jelas Virda.

Bahkan menambah akses ke bandara ke depan, perusahaan ini telah menandatangi nota kesepahaman dengan PT Railink untuk membangun kereta bandara. Saat ini Railink sedang mengkaji pembangunan kereta tersebut yang nantinya akan diakses dari stasiun Jatikarang. Namun pembangunan kereta bandara ini akam dilakukan jika jumlah penumpang minimal mencapai 10 juta per tahun." jelas Virda.

Saat ini sudah ada beberapa maskapai yang sudah menyatakan komitmenya untuk masuk ke bandara Ketajati ini. Hingga saat ini, BIJB sudah melakukan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Citilink, sriwijaya, Allstar, dan maskapai carter NAC charter. "Akan menyusul Garuda dan AirAsia, " Katanya.

Sementara untuk penanganan ground handling, BIJB sudah mengadakan MoU dengan PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) dan PT Gapura Angkasa.

Dalam mengoperasikan bandara ini tahun 2018, BIJB akan menjalin kerjasama kontrak managemen dengan PT Angkasa Pura II mengingat mereka merupakan pendatang baru untuk pengelolaan bandara. Namun setelah lima tahun, kat Virda, pihaknya akan mengajukan untuk mengelola bandara secara mandiri.