Berita

Belanja Modal AP II Melonjak 23%

Elsa Silvia    05 Apr 2017


TANGERANG — PT Angkasa Pura II menyiapkan belanja modal senilai Rp16 triliun pada 2017, atau naik 23% dari rencana semula Rp13 triliun guna meningkatkan kapasitas terminal bandara agar selaras dengan pertumbuhan angkutan udara. Dari belanja modal Rp16 triliun itu, sebanyak Rp12 triliun akan digunakan untuk penyediaan infrastruktur dan pengembangan anak usaha.

Kemudian, sebanyak Rp4 triliun untuk landas pacu ketiga Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Presiden Direktur PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin mengatakan
tambahan belanja modal tersebut akan digunakan untuk pengembangan terminal, sehingga selisih antara kapasitas terminal dengan jumlah penumpang diharapkan mengecil.
“Harus diakui, gap antara kapasitas terminal dengan pertumbuhan penumpang selama ini terlampau lebar, khususnya di bandara-bandara yang dikelola AP II. Oleh karena itu, perlu ada percepatan,” katanya, Selasa (4/4).

Awaluddin menyebutkan kapasitas terminal di 13 bandara yang dikelola AP II pada 2016 sebanyak 76 juta  penumpang. Namun, pada saat bersamaan, tra fi k penumpang justru telah menembus angka 95 juta penumpang. Melihat kondisi itu, AP II berkomitmen untuk mempercepat peningkatan kapasitas terminal pada 2017. Bila tidak ada aral me lintang, AP II akan menambah kapasitas hingga 12 juta penumpang tahun ini. “Jadi, kapasitas terminal bandara-bandara AP II pada akhir 2017 itu mencapai se kitar 88-89 juta  penumpang.

Memang, target itu masih belum bisa menutupi kekurangan, namun paling tidak, gap itu bisa mengecil,” tuturnya.

PROYEK PRIORITAS

Awaluddin mencontohkan beberapa terminal bandara yang bakal dikem bangkan lebih cepat pada tahun ini seperti peningkatan kapasitas terminal Bandara Supadio Pontianak menjadi 5,2 juta penumpang, dari target awal sebanyak 3,8 juta penumpang. Kemudian, pengembangan kapasitas terminal Bandara Minangkabau Padang,  dari target awal sebelumnya sebanyak 3,6 juta penumpang, kini melompat 600.000 penumpang menjadi 4,2 juta penumpang.

“Lalu ada juga revitalisasi Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta dari 9 juta men jadi 18 juta, Terminal 2 Bandara Soe karno-Hatta dari 9 juta menjadi 18 juta, termasuk kapasitas Terminal 3 yang belum kami masukkan,” ujarnya. Sejalan dengan itu, Awaluddin mengungkapkan pendanaan untuk belanja modal
perseroan tahun ini akan disumbang dari kas internal, dana Penyertaan Modal Negara (PMN) dan pinjaman perbankan.

Rencananya, pinjaman perbankan bakal menyumbang cukup besar terhadap total belanja modal perseroan tahun ini, yakni sekitar 40%-50% mengingat kemampuan
leverage AP II saat ini juga cukup baik. “Kami masih akan memanfaatkan slot atau kemampuan pinjaman AP II. Tahun lalu, ka mi punya EBITDA sekitar Rp3 triliun. Jadi sebenarnya, kemampuan leverage kami ini di sekitar Rp18triliun-Rp20 triliun,” katanya.

Sementara itu, Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto meng apresiasi upaya pe merintah, baik melalui kementerian
mau pun BUMN, yang te rus mempercepat pembangunan infrastruktur udara. “Kuncinya memang harus membangun lebih banyak supaya tidak stuck. Kalau pertumbuhan
penumpang misalnya men capai 10%, maka kapasitas bandara harus ditingkatkan lebih banyak, misalnya 15%,” tuturnya.

Bayu menilai percepatan pengembangan infrastruktur memang harus ditempuh pemerintah mengingat kondisi infrastruktur saat ini, khususnya pada transportasi uda ra yang masih tertinggal dibandingkan de ngan laju permintaan.