Berita

30 Aug 2016

Liputan6.com, Jakarta Bandara Soekarno Hatta atau biasa disebut bandara Soetta tentunya tak asing bagi warga negara Indonesia maupun ekspatriat yang sering menggunakan jasa transportasi penerbangan. Sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia dan telah melayani penumpang selama lebih dari 31 tahun tentunya banyak hal yang perlu dibenahi. Melayani pengguna transportasi udara dalam jangka lama tentunya diperlukan peningkatan dari banyak hal, baik dari sisi pelayanan, sistem, maupun fasilitas. Karena itulah pada 2007 dimulai pembangunan Terminal 3 oleh PT Angkasa Pura II. Memang tak singkat, pembangunan tersebut butuh waktu hampir 10 tahun lamanya sebelum akhirnya diresminak beroperasi 9 Agustus 2016 lalu. Terminal 3 memang diproyeksikan untuk mengurangi beban penumpang dari Terminal 1 &2. Bayangkan, kapasitas kedua terminal tersebut hanya 18 juta penumpang per tahunnya, sangat berbeda jauh dengan angka di lapangan yang tercatat 88telah tembus 32 juta penumpang tiap tahunnya!  Adanya Terminal 3 tentunya akan sangat membantu, karena direncanakan akan mampu menampung 25 juta penumpang tiap tahun. Peningkatan pun tak hanya dari segi kapasitas atau daya tampung, perbedaan paling mencolok dibanding dua terminal lainnya karena Terminal 3 dibangun dengan konsep modern dan ramah lingkungan. Terminal baru ini didirikan di atas lahan seluas 422.804 meter persegi dengan panjang 2,4 km, jauh lebih luas dari Terminal 1 & 2. Bangunan pun dibuat setinggi 5 lantai, lantai satu difungsikan untuk terminal kedatangan, lantai dua untuk terminal keberangkatan, dan tiga lantai lainnya difungsikan sebagai sarana perkantoran dan lounge. Peningkatan dari sisi layanan lainnya adalah kemampuan untuk melayani landing pesawat jumbo jet Airbus A380. Ya, pesawat berkapasitas super banyak dengan bobot jauh lebih berat dibandingkan pesawat komersial umumnya menjadikannya membutuhkan landasan khusus. Begitu pun dengan garbarata ganda disiapkan untuk melayani penumang pesawat Airbus A380.  Soal penggunaan energi Angkasa Pura II telah menerapkan teknologi ramah lingkungan dengan hanya menggunakan lampu LED untuk pencahayaan serta solar cell sebagai sumber energi Terminal 3.

29 Aug 2016

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta agen inspeksi (regulated agent) di Bandara Soekarno-Hatta ditata ulang sebagai bagian dari rantai pasok kargo udara untuk menjamin keamanan penerbangan. "Indonesia sebagai salah satu negara anggota ICAO wajib mematuhi seluruh ketentuan keamanan penerbangan yang telah ditetap oleh ICAO, dan adalah wajib hukumnya bagi pengelola bandar udara, maskapai dan regulated agentuntuk menaati ketentuan tersebut, termasuk juga temuan-temuan yang dilakukan oleh otoritas penerbangan sipil negara mitra, wajib dipenuhi," kata Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin. Sebelumnya, Menhub Budi melakukan inspeksi mendadak ke area ekspor Garuda Indonesia Cargo dan beberapa agen inspeksi di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (28/8).  Budi pada inspeksi tersebut didampingi oleh Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah I Soetta, Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Angkasa Pura II dan Pejabat dari PT. Gapura serta Garuda Kargo. Secara umum dalam inspeksi mendadak tersebut dia melihat bahwa kinerja penanganan kargo yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait perlu ditingkatkan.  "Saya minta Kepala Otoritas Bandar Udara memastikan bahwa per 1 Oktober 2016 semua X-Ray (sinar x) yang ditempatkan di regulated agent dan warehouse(pergudangan) harus double/multi view," katanya. Kepada PT Angkasa Pura II, dia menekankan untuk sesegera mungkin melakukan integrasi sistem, baik dengan maskapai maupun agen inspeksi.  Budi menjelaskan hal-hal tersebut terkait dengan hasil audit Uni Eropa bidang Penerbangan Sipil yang menunjukkan adanya beberapa kelemahan keamanan di area Terminal Kargo Soetta, di antaranya dalam hal titik pemeriksaan keamanan (security check point) dan kendali akses (access control).  Selain masalah teknis operasional, dia juga menyoroti regulasi terkait penanganan kargo. "Saya juga minta kepada Dirjen Perhuhungan Udara untuk mengkaji ulang PM Nomor 153 Tahun 2015 baik dari sisi persyaratan operasional maupun pengusahaan," katanya.  Selain memeriksa kondisi fisik, prosedur operasi standar dan kompetensi SDM agen inspeksi, Menhub Budi juga berkesempatan untuk berdialog dengan Regulated Agent dan PT Garuda Indonesia untuk mendapat masukan-masukan guna menjamin keamanan kargo dan optimalisasi pelayanan kargo oleh pengelola bandar udara.

26 Aug 2016

Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II, Agus Haryadi menegaskan bahwa pihaknya tengah membangun lima sodetan baru guna mengantisipasi banjir. "Rencananya akan dibangun lima pipa saluran pembuangan. Sekarang masih pembangunan pipa pertama, " ungkap Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/8). Nantinya lima pipa tersebut akan mengalirkan air ke kali di depan terminal 3 ultimate, dan berujung ke dua danau bandara di depan Jalur Perimeter Selatan dan Jalur Perimeter Utara. "Kalau disodet langsung ke danau, terlalu jauh. Akhirnya disodet ke kali terdekat depan terminal, " jelasnya. Soal banjir yang terjadi di terminal 3 ultimate pada Minggu (14/8) lalu, kata Agus menambahkan, disebabkan penyumbatan yang terjadi di bak kontrol. "Rupanya ada tripek yang ditinggalkan di bak, sehingga air tidak bisa masuk sepenuhnya ke bak. Akibatnya, air yang masuk dalam tekanan tinggi akhirnya berbalik ke permukaan, dan mencari titik paling lemah untuk menerobos keluar," pungkasnya. [sam]

22 Aug 2016

TANGERANG - Rivan atau yang biasa disapa Irfan, seorang petugas cleaning service di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, menemukan tas berisi Rp20 juta dan barang berharga lainnya pada Kamis 18 Agustus 2016 lalu.

16 Aug 2016

JAKARTA - PT Angkasa Pura (AP) II sudah menyiapkan 5 pompa untuk mengantisipasi terulangnya kejadian banjir di area kedatangan terminal 3 Ultimate, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Banten. Namun, itu saja tentu belum cukup. Perlu ada perubahan terkait kondisi drainase yang buruk.  Plt Direktur Utama PT AP II Djoko Murjatmodjo menuturkan, pihaknya sudah merencanakan hal tersebut. Pihaknya akan bertemu dengan kontraktor untuk membicarakan soal kajian drainase ini. “Sambil menunggu kita lakukan kajian yang komprehensif, untuk antisipasi disiapkan 5 pompa air sore ini (kemarin sore, red),” ujarnya ditemui di Terminal 3 Ultimate, kemarin (15/8).  Diakuinya, kondisi ini diluar prediksi. Sebab, hujan lebat baru terjadi Minggu (14/8) lalu. Sehingga, munculnya genangan ini baru terlihat. Apalagi, saat itu manhole-manhole di sana sedang dibuka untuk dibersihkan dari sampah-sampah pembangunan terminal. Manhole merupakan salah satu bangunan pelengkap sistem penyaluran air buangan yang berfungsi sebagai tempat memeriksa, memperbaiki, dan membersihkan saluran dari kotoran yang mengendap dan benda-benda yang tersangkut selama pengaliran, serta untuk mempertemukan beberapa cabang saluran, baik dengan ketinggian sama maupun berbeda. “Kan kadang ada pasir. Jadi dibersihkan. Pengerjaan belum selesai, eh hujan gede. Jadi meluap. Bisa dibayangkan, volume air yang besar jadi langsung naik,” ungkapnya. Merespon kondisi itu, lanjut dia, pihaknya langsung mengerahkan petugas untuk melakukan pembersihan. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Wika) Suradi mengatakan, Wika sebagai pimpinan konsorsium Kawahapejaya Indonesia, pelaku proyek Terminal 3 Ultimate telah menangani permasalahan genangan air. Menurutnya, tim konsorsium sudah bergerak cepat untuk mengatasi insiden akibat luapan buangan air di bak kontrol yang berada di bawah lantai plaza hari Minggu (14/8) lalu. Kedepannya, pihaknya telah telah menyiapkan tim kerja yang terdiri dari manajemen teknisi dan pekerja selama 24 jam. Pekerja tersebut bakal dibagi dalam dua shift untuk siaga mengatasi masalah-masalah yang kemungkinan akan timbul di terminal baru. “Saat ini, kami tengah mengusulkan agar dibuat sodetan dari bak kontrol. Nantinya, sodetan itu nantinya menyalurkan air dari masing-masing bak ke sungai,” terangnya.  Ditemui dalam kesempatan sama, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla turut angkat bicara soal insiden-insiden yang terus terjadi. Menurutnya, beragam permasalahan yang muncul diawal pengoperasian terminal baru merupakan hal yang wajar. Setidaknya, paling tidak butuh waktu enam bulan untuk menemukan kekurangan-kekurangan tersebut. “Enam bulan ini waktu mencatat segala kekurangan. Di mana-mana bandara baru memang selalu begitu. Masalah satu persatu muncul. Makanya itu ada soft opening biar tahu,” ungkapnya usai meninjau terminal 3 Ultimate, kemarin.  Salah satunya, terkait banjir yang terjadi di area kedatangan terminal 3 ultimate pada Minggu (15/8). Dia menanggapi hal itu santai. Menurutnya, itu terjadi hanya karena perbedaan luasan terminal dari yang tertutup aspal dengan saluran air yang ada. “Kalau diseimbangkan akan selesai,” sambungnya. Kendati demikian, lanjut dia, bukan berarti hal itu dibiarkan. AP II harus melakukan penyempurnaan dengan cara membuat standarisasi sebagai tolal ukur. Misalnya, berapa lama waktu yang digunakan untuk perjalanan orang ke pesawat, lama waktu tunggu ataupun lama waktu check in. “Semua harus dihitung untuk dibuat standar,” ujarnya. Menyikapi permasalahan yang muncul dalam pengoperasian terminal 3 ultimate, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi (BKS) akhirnya bertindak. Dia berencana menunjuk lembaga independen untuk melakukan audit. “Kita akan survei dan menunjuk satu badan kredibel untuk melihat apa kekurangannya,” ujarnya usai menemani JK memantau operasional terminal 3 ultimate.  Lembaga independen ini berasal dari universitas. Misalnya, ITB akan evaluasi soal teknologi, UI soal aksesibilitas, dan UGM dalam hal pelayanan. “Tidak perlu susah-susah, karena ini pihak universitas kan kredibel,” ujarnya. tim ini juga akan bekerja untuk melakukan survey tiap bulannya guna mengetahui kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. (mia/bil/dod)

16 Aug 2016

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla berkeliling di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Wapres JK memaklumi jika masih ada kekurangan dalam pengoperasiannya. "Semua fasilitas yang baru pasti ada hal yang kurang, atau hal yang lebih. Justru disitulah namanya uji coba atau soft opening, atau operasi bagian demi bagian untuk mengetahui apa yang sudah sempurna dan belum," ungkap JK, Senin (14/8/2016). Kedatangan Wapres JK ini sebenarnya untuk menghadiri peluncuran fasilitas layanan perbankan BNI dan BRI di Terminal 3. Sebelum acara dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, sekitar pukul 14.30 WIB Wapres JK berkeliling didampingi sejumlah menteri.  Mereka yang mendampingi di antaranya Menhub Budi Karya Sumadi, Menteri BUMN Rini Soemarno, Plt Dirut AP II Djoko Murjatmodjo dan Dirut Garuda Arif Wibowo. Mereka sempat berkeliling meninjau panggung budaya, counter Garuda Indonesia, menyapa penumpang dan terakhir beristirahat di Lounge Garuda. "Ini memang justru saya minta mencari kesalahan dan kekurangannya. Sejauh ini kekurangannya apa? Kita belum mengetahui, saya minta tiap bulan ada survei-nya. Tapi seperti ramai dibicarakan kemarin, soal genangan air itu karena perbandingan luasan terminal ini dengan luasan bandaranya tertutup semua dengan aspal, dengan dia punya saluran air itu tidak seimbang. Gitu saja sebenarnya. Kalau diseimbangkan itu akan selesai," papar JK. JK meminta semua kekuarangan yang ada saat ini disempurnakan. Sebelum disempurnakan, AP II harus mengetahui satu persatu permasalahnya.  "Ini kan masalahnya satu per satu kembali muncul kan, kemarin tergenang air, lama-lama muncul berapa lama jarak orang dari sini sampai ke pesawat. Itu musti dihitung semua untuk mendapat standar-standar. Yang pertama adalah, AP II membuat standar dulu yang ingin dicapai, standar jauh, standar makanan, standar waktu check-in, standar toilet. Musti distandarkan dulu. Setelah itu dipenuhi standarnya, oke buka secara formal," jelasnya.

11 Aug 2016

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- PT Angkasa Pura II (Persero) menginformasikan penerbangan di Terminal 3 yang lama secara bertahap akan dipindah sejalan dengan rencana pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. "Adapun saat ini maskapai yang beroperasi di Terminal 3 lama adalah AirAsia dan sebagian penerbangan Lion Air yakni tujuan Semarang, Yogyakarta, Solo dan Denpasar, di mana nantinya kedua maskapai tersebut akan pindah ke terminal lain," kata Head of Corporate Secretary & Legal AP II Agus Haryadi dalam keterangan tertulis, Rabu (10/8). Ia mengatakan, maskapai yang pertama kali pindah adalah AirAsia mulai 12 Agustus 2016 pukul 03.00 WIB ke Terminal 2E untuk penerbangan internasional dan Terminal 2F untuk penerbangan domestik.   "PT Angkasa Pura II (Persero) akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan perpindahan AirAsia ke Terminal 2E dan 2F berjalan lancar," lanjutnya. Sementara itu, Lion Air, ia katakan, masih tetap beroperasi di Terminal 3 lama hingga pengumuman lebih lanjut.   Seperti diketahui mulai 9 Agustus 2016 telah dioperasikan Terminal 3 baru yang melayani seluruh penerbangan domestik Garuda Indonesia. Nantinya, Terminal 3 lama akan diintegrasikan dengan Terminal 3 baru sehingga total dapat menampung sebanyak 25 juta penumpang pesawat per tahun.   Pemindahan secara bertahap ini bertujuan untuk tetap menjaga operasional penerbangan dan pelayanan di Bandara Internasional dapat tetap berjalan lancar di tengah pengembangan yang dilakukan.   "PT Angkasa Pura II (Persero) memohon maaf apabila perpindahan maskapai ke terminal lain ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang pesawat, namun demikian hal ini dilakukan untuk membuat Bandara Internasional Soekarno-Hatta lebih baik dan dapat bersaing dengan bandara kelas dunia lainnya di ASEAN," katanya menambahkan.

10 Aug 2016

Dini hari di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Tangerang, Levi sedang mengantre di salah satu kedai kopi modern.

09 Aug 2016

TANGERANG - Terminal 3 Ultimate, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten resmi beroperasi sejak pukul 00.01 WIB, Selasa (9/8/2016). Direktur Garuda Indonesia, Arif Wibowo mengatakan, rute pertama yang akan menjajal terminal baru itu adalah Jayapura, kemudian ke Ternate.  “Jam 1.20 WIB, mereka (penumpang) kami tidak antar ke sini, karena kami sudah beritahu. Alhamdulillah tidak ada yang tertinggal karena memang sudah kami sediakan juga help desk di Terminal 2,” terangnya. Selain yang berangkat, kata dia, sekitar pukul 02.00 WIB Selasa (9/8/2016) juga ada yang datang. Dia berharap untuk penumpang yang datang tidak sampai tersesat karena adanya perpindahan terminal untuk penerbangan domestik Garuda Indonesia. “Yang datang sebentar lagi tiba jam 02.00 WIB dari Palembang, mudah-mudahan enggak ada yang tersesat,” ujarnya.  Dia mengatakan, dalam sehari ada sekitar 190 jadwal penerbangan untuk domestik Garuda Indonesia. “Cuma memang untuk internasional belum ya, itu khusus domestik saja 150-190 penerbangan,” tuturnya. Sebelum beroperasi pada Senin sore tadi, pihaknya sudah melakukan trial ke Tanjung Karang, Lampung. Pihaknya sudah sangat yakin kalau semua akan berjalan mulus. “Semua mulus berjalan lancar karena sudah trial sore tadi, garbarata lengkap, karenanya penerbangan perdana juga kami yakin mulus,” tuturnya. Plt Direktur Utama PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo mengatakan, pihaknya sangat memperhatikan apa-apa yang menjadi persoalan dari setiap penumpang. “Alhamdulillah ya sudah beroperasi, tetapi kami tetap memperbaiki apa-apa yang menjadi permasalahan bagi penumpang,” ujarnya. Sebelum terbang, beberapa penumpang mengeluhkan masih minimnya petunjuk untuk mencapai lokasi parkir. Selain itu, suara bising mesin potong gerinda terdengar sampai ke dalam Terminal 3 Ultimate. “Saya kira memang sudah megah sih ya, tetapi masih bingung saya petunjuknya minim. Selain itu terdengar suara gerinda bising sekali,” tutur Linda penumpang Garuda Indonesia tujuan Jayapura.

05 Aug 2016

JAKARTA, Tigapilarnews.com- PT Angkasa Pura II memastikan Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mulai beroperasi pada 9 Agustus 2016 pukul 00.01 WIB mendatang.