Siaran Pers


Sebagai upaya mendukung kemajuan dunia otomotif Indonesia, PT Angkasa Pura II (Persero) akan bersinergi dengan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) untuk menghadirkan sebuah layanan moda transportasi publik yang modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Perjanjian kerjasama atau Memorandum Of Understanding (MoU) tersebut meliputi akan dilakukannya uji coba pengoperasian bus listrik (low deck) di area sisi udara (airside) dan di sisi darat (landside) Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 

Acara penandatanganan kerja sama ini dilakukan oleh Pelaksana harian (Ph.) Executive General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Agus Haryadi yang mewakili PT Angkasa Pura II (Persero) dengan President Director PT MAB yaitu Mayjen TNI (Purn) Leonard di Jakarta, Sabtu 3 Maret 2018.

President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menjelaskan, “Melalui kerja sama ini, AP II resmi menjadi BUMN pertama di Indonesia yang akan menggunakan kendaraan karya anak bangsa yang inovatif dimana hal ini selaras dengan semangat dan komitmen korporasi untuk selalu mendukung karya anak bangsa”.

“Selain itu kerjasama ini jelas merupakan bentuk sinergi positif yang tidak hanya dapat mengembangkan bisnis masing-masing perusahaan, melainkan juga dapat memberikan kontribusi positif pada negara”, ungkap Awaluddin.

Bus listrik karya PT MAB tersebut memiliki kapasitas 60 orang per unitnya dan mampu melaju hingga 300km/jam dengan interval pengisian daya listrik hanya dalam waktu 3 jam. Dengan penggunaan bahan bakar berupa tenaga listrik murni (non-fossil fuel), artinya moda transportasi ini merupakan yang ramah lingkungan.

Isu lingkungan sendiri merupakan salah satu perhatian korporasi dimana Bandara Internasional Soekarno-Hatta di tahun 2014 telah mendapatkan Airport Carbon Accreditation pada level awal yaitu Mapping oleh Airport Council International (ACI), dimana level Mapping merupakan pemetaan jejak karbon (carbon footprint) untuk mengetahui seberapa banyak emisi karbon yang ada di suatu bandara.

Akreditasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat ditingkatkan ke level berikutnya yaitu adalah Reduction kemudian ke level Optimization dan level yang tertinggi yaitu Neutrality.

Berdasarkan data korporasi tahun 2014, diketahui jumlah volume emisi karbon yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yaitu sebanyak 137.145 ton yang berasal  dari konsumsi listrik, BBM, gas, & aktivitas yang tidak dapat dikendalikan oleh bandara.

“Pengoperasian bus listrik tersebut di Soekarno-Hatta merupakan strategi dan langkah tepat dalam mereduksi emisi karbon khususnya yang berasal dari BBM dan penerapan konsep green airport serta sustainable environment seperti bandara-bandara kelas dunia lainnya”, tambah Awaluddin.

“Kami pun berharap dengan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan tersebut, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat meraih Airport Carbon Accreditation dari ACI pada level selanjutnya menjadi Reduction”, pungkas Awaluddin.