COVID019
Untuk informasi detail perkembangan dan kebijakan-kebijakan terkait dengan Covid-19 dapat diakses disini.
Anjuran Perjalanan pada Masa Covid-19 di Bandara-Bandara Angkasa Pura II. Klik disini.
Peningkatan Tindakan Pencegahan Terhadap Covid-19 di Bandara-Bandara Angkasa Pura II. Klik disini.
X

  • Berita & Event
  • Tiga Bandara PT Angkasa Pura II Jadi Lokasi Pengembangan Listrik Tenaga Surya

Berita & Event

Berita terbaru mengenai PT Angkasa Pura II (Persero)

Tiga Bandara PT Angkasa Pura II Jadi Lokasi Pengembangan Listrik Tenaga Surya

04 Nov 2020

Jakarta – PT Angkasa Pura II (Persero) fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di seluruh bandara. 

Pada hari ini, perseroan dan PT Len Industri menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang Kajian Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Lingkungan PT Angkasa Pura II. 

Sejalan dengan MoU tersebut akan dilakukan kajian teknis implementasi EBT di 3 bandara yakni Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Kualanamu di Deli Serdang, dan Bandara Banyuwangi. 

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan diharapkan kajian teknis sudah usai pada akhir tahun.

“Lokasi kajian teknis ditetapkan di 3 bandara sesuai dengan surat dari PT Len Industri, dan kami rasa sudah sangat memadai. Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara terbesar, kemudian Kualanamu adalah kedua terbesar, sementara Banyuwangi merupakan bandara yang pembangunannya sudah mengarah ke konsep green airport,” jelas Muhammad Awaluddin usai menandatangani MoU dengan PT Len Industri. 

Lebih lanjut, Muhammad Awaluddin mengatakan tujuan penggunaan EBT di bandara PT Angkasa Pura II adalah melengkapi sumber listrik dari PLN, meminimalkan biaya konsumsi listrik, dan menerapkan konsep green airport.

“Misalnya di Bandara Soekarno-Hatta, penggunaan EBT sebesar 10% dari kebutuhan saja itu sudah sebesar 6,5 megawatt. Itu sudah termasuk cukup besar untuk penggunaan EBT,” ujar Muhammad Awaluddin. 

Di dalam 2 tahun mendatang, PT Angkasa Pura II menargetkan penggunaan EBT di bandara-bandara dapat mencapai 10% dari total penggunaan/konsumsi listrik. “Implementasi EBT ini juga merupakan strategi perseroan di dalam mengimplementasikan Business Survival Initiatives di tengah pandemi, serta melakukan optimalisasi melalui pivoting business atau mencari peluang yang ada,” ujar Muhammad Awaluddin. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin mengatakan,”Terkait kajian [kesiapan] sudah lengkap. Nanti kajian tersebut bisa disinkronkan dengan Roadmap AP II untuk seluruh bandara, sehingga mendukung rencana jangka panjang AP II.”

Di tempat yang sama, Direktur Konservasi Energi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hariyanto mengatakan kementerian akan melakukan kajian mengenai pengembangan EBT di Bandara Banyuwangi.

Seperti diketahui bahwa pada 22 Oktober 2020 PT Angkasa Pura II dan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM telah menandatangani MoU tentang Penerapan Konservasi Energi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan Secara Berkelanjutan Pada Bandara Udara.

“Kajian teknis nanti bisa disinergikan. Kami akan mengawali [kajian teknis] di Bandara Banyuwangi, dengan melihat workprofile,” jelas Hariyanto. 

PLTS di Bandara Soekarno-Hatta
Di kawasan Bandara Soekarno-Hatta saat ini sudah terpasang PLTS tepatnya di gedung Airport Operation Control Center (AOCC).

Sebanyak 720 solar panel system dengan photovoltaics berkapasitas maksimal 241 kilo watt per peak (kWp) dipasang di atap gedung guna mengaliri listrik ke peralatan-peralatan canggih di AOCC.

AOCC sendiri memiliki peran sangat vital dalam menjamin kelancaran operasional di Bandara Soekarno-Hatta.